Skip to main content

Posts

Showing posts with the label renungan

Pedulikan Anda Pada Setetes Air?

Air merupakan sumberdaya alam yang luar biasa. Hampir 80% komposisi tubuh manusia adalah zat cair. Jika manusia kekurangan air, akan berakibat fatal bagi fungsi dasar tubuh. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa ketersediaan air di bumi tidak pernah berkurang. Melalui siklus hidrologi, air melalui masa daur ulang. Air yang sudah digunakan oleh mahluk hidup, kemudian masuk ke dalam sistem pengairan besar, seperti sungai dan laut, untuk kemudian menguap, jadi awan dan turun kembali menjadi hujan dan siap dikonsumsi kembali. Semua proses tersebut terjadi di dalam tempat yang kita kenal sebagai bumi. Seiring dengan cerdasnya manusia, kondisi lingkungan pun semakin tidak sehat. Maraknya pencemaran sumber air karena limbah perusahaan yang tidak diolah ke sungai-sungai sumber air minum warga. Rusaknya mata air pegunungan karena alih fungsi lahan dan penebangan hutan secara illegal. Pemanfaatan sungai sebagai WC umum dan tempat pembuangan sampah terpanjang. Dan daftar ini semakin lama semakin bertamb...

Angels and Demons : Sisi Pandangku

Wew.. siapa yang tidak kenal Dan Brown? Dengan novel international best sellernya? Da Vinci Code yang sempat mengundang perdebatan sengit? Salah satu karyanya kembali dilayar lebarkan dan cukup mengundang kekaguman penonton. Film dengan judul Angels and Demons ini mengangkat judul yang sama dari novel Dan Brown. Masih dengan tokoh yang sama, ahli simbol Robert Langdon dan polemik di balik agama Gereja Roma Katholik dan kelompok Illuminati. Secara ringkas, film itu berkisah tentang pertentangan antara ilmu pengetahuan dan iman Kristen. Brown mengisahkan, pertentangan itu dimulai saat gereja memegang penuh otoritas masyarakat, bahkan sampai mengatur apa yang baik dan buruk dan yang tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat. Otoritarisme gereja ini menyebabkan banyaknya para ahli ilmu pengetahuan seperti dikungkung dalam tempurung. Salah satunya adalah Galileo Galilei yang menjadi tokoh kunci petunjuk teka teki aksi teror yang dilakukan oleh Illuminati. Galileo divonis menghujat Otoritas ger...

Usia 1/4 Abad

Jika umurku 100 tahun, maka bisa ketebak donk arti judul itu. Menjadi seorang manusia berusia 1/4 abad sepertinya masih jauh kali ya dari mapan. Ada pepatah bilang "live begin 40", apakah itu benar? Ya kalau sudah harus menghadap Sang Paduka sebelum usia 40? Ga berlaku donk.. :) Tapi diangka berapapun usia kita, sadarilah bahwa hidup itu sudah dimulai, bukan saat usia 40, tapi saat kita bisa bernafas, saat kita bisa berkarya. Ketika itulah hidup dimulai. Memang kemapanan (uang) sepertinya telah menjadi patokan utama untuk kesuksesan manusia. Tapi, coba kita berpikir keluar dari paradigma lama ini. Tentu hidup itu indah. Hidup memang menyenangkan saat kita bisa menikmati hidup. Bagiku, di usia 1/4 abad ini, pencarian jati diri selalu melintas dibenakku. Untuk apa aku hidup, untuk apa aku bekerja, untuk apa aku menikah, untuk apa aku mempunyai pasangan, etc. Beberapa teman mengatakan, aku terlalu serius untuk menghadapi hidup. Apakah memang begitu? Entahlah, yang pasti aku seda...

Tahun Baru, Ritual Rutin

Setiap 31 Desember kita akan disibukkan dengan ritual yang sama. Sudah berapa tahun baru yang kita lalui? Hitungannya akan berbeda, bergantung pada umur sang penjawab. Perayaan tahun baru dengan pesta pora, itu yang kerap kita buat. Seolah jika sudah berpesta kita sah memasuki tahun baru. Banyak yang tidak bisa merayakannya karena kesusahan hidup. Jika anda merayakannya, berempatilah pada saudara yang menderita. Doa saya, di tahun depan mimpi kita bisa nyata. Selamat berkarya di tahun 2008. God bless !

Pesan Khusus

Oleh : Pendeta Jan H. Rapar Seorang buruh bangunan yang bekerja di lantai atas suatu bangunan, ingin menyampaikan pesan khusus kepada temannya yang bekerja di bawah, di pelataran bangunan itu. Ia mencoba berteriak, tetapi temannya tidak dapat mendengar teriakkannya karena suara yng bagitu ribut dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja di sekitarnya. Oleh karena itu ia mengambil “batu kecil” dan menjatuhkannya sehingga mengenai tubuh temannya. Karena merasa sakit, temannya itu pun melihat ke atas. Setelah melihat temannya mendongak ke atas barulah ia menjatuhkan kertas berisi pesan yang hendak disampaikannya. Seringkali manusia telah dipenuhi dengan berbagai “suara” dalam hatinya dan dari orang-orang di sekitarnya, sehingga ia tidak dapat mendengar suara Tuhan. Terpaksa Tuhan harus menjatuhkan “batu kecil” sebagai “pesan khusus” yang acapkali begitu menyakiti kita, namun jika kita sudi mendengarkan suara-Nya maka Dia akan menunjukkan belas kasihan dan segala kebaikan...

Analogi Sederhana tentang Tuhan

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada" "Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen. "Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit?? Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi." Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi me...

Berpikirlah Sebelum Bertindak

Oleh : Pendeta Jan H. Rapar Konon pada suatu hari, seekor serigala terjerat ekornya. Ia berusaha melepaskan ekornya tapi sia-sia. Akhirnya ia berpikir daripada ia tertangkap lebih baik ia memutuskan ekornya. Di tengah perjalanan kembali ke kelompok teman-temannya, ia berpikir bagaimana agar teman-temannya pun bisa buntung ekornya seperti dia. Akhirnya ia memperoleh gagasan yang bagus! Ketika ia telah berada di tengah-tengah kelompoknya, ia pun langsung angkat bicara! ”Teman-teman, lihat aku sekarang bisa berlari lebih cepat dan merasa begitu ringan dan bebas karena aku telah memotong ekorku! Ekorku itu tidak lebih daripada suatu beban yang sangat merintangi kebebasan kita. Cobalah tiru aku, dan kalian akan merasa betapa indahnya hidup tanpa ekor!” Beberapa serigala muda berpikir bahwa apa yang dikatakan itu memang masuk akal dan oleh karena itu mereka ingin segera memotong ekor mereka. Tiba-tiba seekor serigala tua berkata, ”Teman-teman jangan cepat-cepat bertindak! ...

Mencari Alasan

Oleh : Pendeta Jan H. Rapar Seekor anak serigala sedang minum air di tepi sebuah sungai kecil. Tiba-tiba ia melihat seekor anak domba lemah yang sedang minum tidak jauh dari tempat ia minum. Timbullah selera serigala itu untuk menyantap domba lemah tersebut, tetapi ia harus mencari alasan yang tepat untuk memangsa domba itu. Serigala itupun lalu berkata kepada anak domba itu, ”Hei mengapa engkau mengotori sungaiku ini?” Anak domba itu menjawab, ”Ampuni aku, karena aku tidak tahu bahwa sungai ini milikmu.” Serigala itupun berkata, ”Bukankah tahun lalu engkau juga yang mengejek aku di tempat ini?” Domba berkata, ”Tahun lalu aku belum lahir. Mungkin itu ibuku!” Serigala itupun berkata, ”Jika demikian, engkau harus membayar kesalahanmu dan kesalahan ibumu!” Serigala itpun menerkam domba lemah itu. Orang yang berhati jahat selalu pandai merangkai berbagai alasan untuk membenarkan kejahatan yang ia perbuat. Sumber : Gema ”Effatha” Minggu, 4 November 2...

Kisah Gelap dan Terang

Pada suatu masa ada dua sosok yang lazim kita jumpai di sekitar kita. Leluhur kita menyebutnya sebagai gelap dan terang. Dua hal yang berlawanan satu sama lain. Sekali peristiwa, gelap bertemu dengan terang di suatu tempat yang disebut bumi. Melihat penampilan terang yang nampak menawan, gelap merasa tertarik untuk melihat tempat asal sang terang. Untuk memenuhi rasa penasarannya, maka gelap pun mengutarakan maksudnya kepada terang. “Terang, bolehlah kiranya aku menengok sebentar tempat asalmu !” “Karena aku kagum dengan kemilaumu.” Terang pun menyanggupi permintaan gelap “Boleh saja engkau melihat rumahku” “Aku berasal dari tempat nun jauh di atas sana” “Sudikah engkau menempuh perjalanan ke langit teratas ?” “Ya, tentu saja, mengapa tidak?” sambut gelap dengan penuh semangat. Maka, tidak lama kemudian, gelap dan terang terbang meninggalkan bumi menuju langit teratas. Setibanya di tempat asal terang, sang gelap merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. Semua berkilau mem...

Pohon Beringin

Oleh : Pendeta Jan H. Rapar Tiga orang pengembara berteduh di bawah pohon beringin yang sangat rimbun daunnya. Mereka begitu lelah dan kulit mereka terasa perih disengat terik matahari. Selang beberapa waktu kemudian, salah seorang di antara mereka berkata keoada keyda temannya. “Pohon ini pohon sialan! Buahnya tidak berguna bagi kita! Seandainya aku punya kapak, pohon ini sudah kutebang!” Kedua temannya pun membenarkan ucapannya. Pohon beringin itu merasa seduh mendenagra percajaoan para pengembara itu. Sungguh menusai yang tidak tahu berterima kasih. Aku telah menaungi mereka dari terik matahari, tetapi masih juga memaki aku dan mengatakan aku tidak berguna. Ada banyak orang yang demikian! Orang-orang yang tidak tahu berterima kasih! Teguran kasih dari rekan-rekan dan orang-orang di sekitarnya yang bermaksud untuk menyelamatkan dia dari kejatuhan yang lebih jauh, dianggap sebagai tekanan, penindasan dan kekejaman. Sumber : Gema “Effatha” Minggu, 21 Oktober 2007