Part 1 Sore itu di ruang tamu rumahku, “Haah…., sudah cukup hubungan kita !” Teriakku dengan parau dan amarah yang memuncak di ubun-ubun, memecah keheningan pagi itu. Karena sudah tidak dapat aku pendam lagi, akhirnya kata-kata yang selama ini aku pantangkan, terlontar juga, “Mulai saat ini kita cerai, muak gua lihat muka loe! Mau mati kek, mau minggat kek, emang gua pikirin ?” Duduk di hadapanku sesosok perempuan dengan mata sembab dan wajah yang basah oleh air mata. Ya, dia adalah istriku. Seorang perempuan yang sudah mendampingiku selama 5 tahun ini. Dengan terisak, dia mengatakan “Baik, aku juga sudah muak dengan semua ini !” Dengan terbata-bata, dia melanjutkan luapan emosinya, “Aku, aku sudah salah memilih kamu sebagai suamiku…hu..uu….” balasnya sambil menatap penuh kemarahan ke arahku. Mendapat tantangan seperti ini, naluri jantan dominanku mulai bereaksi “Ok, siapa takut !” tungkasku. “Mulai saat ini ambil semua bajumu dan pergi dari rumah ini! Gua ga sudi lihat muka loe di sin...