Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

告白

あなたは私の空気 呼吸をして 私の肺を満たす あなたは私の水 喉の渇きを潤す この望みのない砂漠で あなたは私の炎 私を暖めてくれる どんなに冷たく辛い時にも あなたは私の地球 隠れ場を与えてくれる 外界から私を守ってくれる あなたは私の世界 どんなことがあってもそのために戦える 天国からの大切な宝物 あなたのおかげで もう生きた機械ではない あなたが私の魂を変えた だから悲しみも幸せも感じられる 私の永遠のパートナーになってほしい 激しい台風にも一緒に立ち向かって 傍にいてどんな障害も乗り越えよう 私は確信している あなたは選ばれし人 どうか私の傍にいてほしい 私の眼になってほしい 暗闇でも道を見失わないように あなたの穏やかさで私の心を満たしてほしい そうすれば正しい選択ができる どんな時も私の手を握っていてほしい そうすれば崖だって歩ける 耳元で囁いてほしい あなたの知恵を私に 自分が信じられない時に これが私の告白 私の深い思いを表現したもの 私の大切な人にどうかなってくれますか 今もこれからも 一緒にいてくれますか

Senandung Takbir

Kumandang takbir Allahu akbar walilah ilham bak sebuah sentir di tengah malam kelam Indahnya pujian bagi sang Khalik disiarkan ke penjuru bumi masa dan bulan baik untuk beri maaf dan silaturahmi Gema takbir di angkasa menyapa nurani manusia saatnya berlapang dada memberi ampunan dosa Allahu akbar walilah ilham suka cita semesta berpadupadan pandang sesama tanpa muram semangat baru penuh ampunan Akankah ku akhiri ramadhan suci tanpa arti ku ingin takbir itu selalu ada sebagai pengingat akan dosa Pintu maaf itu terbuka ku maafkan kau saudara mari kembali ke fitrah menjadi hamba yang penuh berkah

Kisah Kembara

Banyak tanya tersiar sejuta kabar tersebar seluruh jagat gempar menanti sebuah berita besar Penghuni bumi tak pernah henti tuk berlomba telanjangi semua misteri dan teka teki Semesta raya seolah bergurau dengan suaranya yang parau kau anak Adam perkasa kemanakah gerangan terkasih Hawa Sila kau pandang mata sebelah ketika kau dakwa aku rasa bersalah tapi aku tak pernah menyerah walau darahku tak lagi merah Surya bersiasat dengan masa atur usia sedemikian rupa hingga buat gentar asa bahwa penantianku percuma adanya Hayatku tak serapuh itu raga dan jiwa tetap bersatu mencari sahabat setia wahyu kelak berbukti, kau kan mengaku Hari ini ku bawa bukti mari alam kau jadi saksi ku tlah temu bagian hati kawan setia sehidup semati Kini nurani kembali ceria bagai anak pulang kembara dapati hangat tawa bahagia berpadu dengan kekasih sampai akhir masa

Harta Semesta

Ku punya kabar gembira hendak ku sebar ini berita sendengkanlah telinga siaplah dengar ini suara Langit bumi dan segala isi janganlah engkau saling beriri jika tahu apa yang ku beri akan buat engkau sakit hati Akulah sang kelana yang tak pernah bermuram durja segala daya upaya kini mulai nampak nyata Wahai kau langit tiada guna bermuka sengit oh saudara gunung janganlah engkau murung Laut ganas bergelora apakah gerang kau membara angin dingin pemberi nyeri usah kau umbar dengki Hendaklah kau tahu sobatku jangan terlintas tanya ragu seolah aku beri haru pada pandang yang nampak semu Kini ku sua sang kekasih perempuan rupawan tak suka selisih jangan kau coba tuk mengusik kekasih hatiku nan cantik Wanita lembut dan perkasa dialah penakluk rimba raya semua mahkhuk sontak berkata jagalah dia sang harta tiada tara Wanita tenang tanpa bimbang ya... dialah penentu seimbang jangan buat hatinya gusar jika tidak kau dapat amar Aku adalah lelaki sang pengembara bumi dapatkan gadis berkah ilahi hat...

Berita dari Negeri

Selamat pagi dindaku bagaimana kabarmu sebelas hari berlalu ku tahu kau menikmati sang waktu Jumpakah dengan anoa? apa saja yang kau cerita apakah cerita bahagia atau berita sengsara Semenjak kau pergi banyak hal terjadi di negeri apakah ku harus berbagi tentang galau hati ini? Aku tak tahu lagi ke mana harus ku cari kebenaran sejati keadilan hakiki yang dinanti kau bangga jadi warga negeri kaya? jika kau tahu malaysia curi harta kita puas dengan hasil perjuangan? jika pencuri uang rakyat mendapat ampunan Naluri keadilan dan kebangsaan ini berontak bagai meriam siap melentak hati ini ingin teriak bagai samudera riuh bergejolak Gemeretak gigi melihat kita kalah strategi melawan malaysia keji yang girang menari-nari Hati sakit tak terperi ketika para pengkhianat negeri antri remisi dan grasi di masa yang mereka kata demokrasi Bangsa ini kian terpuruk di tengah kerumun cecunguk busuk yang berlomba cari sanjungan muluk di tengah caci dan kutuk Tak sampai hati ku berbagi misteri yang hanya ...

Ganyang Malaysia!

Darah ini telah mendidih tersayat sembilu nan perih napas dan jerit merintih apakah pantas ku bersedih? Wahai engkau bangsa merdeka apakah kau peduli negara ketika sang durjana berlaku nista di daulat negeri tercinta Sabar ini sudah habis menjadi korban nafsu bengis mengapa ku hanya bisa menangis saat durjana menyerang sadis Zaman dan masa telah berlalu saudara serumpun masih yang itu hati dan pikir mereka buntu selalu anggap kita seteru Negeri kaya tanpa daya mengapa gerang tak kau bela putra bangsa teraniaya emban tugas suci mulia Di manakah sang penguasa? ketika putra bangsa ternista saat nyawa tidak berharga dan kita hanya bisa terpana Jika Putra Fajar kuasa berlaga tanpa prasangka akan dibela perintah tegas serta mulia tuk jaga kita punya wibawa Ingin mulut ini teriak kaki dan tangan siap gerak hati dan jiwa bersatu tindak tuk jaga jaya saudara dan sanak Tangan rela sudah terkepal hati jiwa berbulat tekad kirim kami ke ujung tapal bawa derita pada si laknat Kehormatan kita sebagai...

Pusara Merdeka

Suara ini begitu kentara kuat mendobrak pintu pusara tak henti bak baris tentara maju teguh ke medan laga Kata demi kata kembali telisik teriakan sanubari nan memekik merdeka atau mati semboyan kekal demi negeri Silih berganti sang kala lewati segala realita saat kembali renung merdeka tampak semua tak sempurna Aku artikan merdeka bukan kedaulatan negara belaka rakyat negeri sejahtera itulah bisik sang empunya suara Kini semua semu adanya banyak kabar siar berita lihat warga gugat angkara kemakmuran jauh tak terkira Sengsara harta jiwa dan raga lebih derita dari zaman tetua yang saksi bersimpuh duka ratap sedih pejuang negara Indonesia merdeka ada di mana makmur bahagia tidak merata satu demi satu buka suara mulai bertanya aku ini milik siapa Kecewa amarah pada penguasa tak pernah lekang dirundung masa itulah potret kondisi negara yang kau sebut Indonesia Sejenak ku ragu pada merdeka di manakah sejahtera merata Kemelaratan dan sengsara makin meraja di bumi yang kaya raya Adakah sudi te...

Suara

Ting.. Ting.. Ting.. bukanlah gelas yang berdenting itulah jiwaku teriak nyaring Entah mengapa ku tak kuasa tuk tahan gelora dalam sukma ketika merindu yang dipuja Walau ku sering dengar tapi mengapa jiwa ini tak henti getar ketika suaramu menyapa segar Bagai musafir bertemu air sontak hatiku riang tanpa pikir kabar berita tak henti mengalir tuk puaskan dahaga hingga akhir Tik.. Tik.. Tik.. mengapa waktu selalu usik kala kekasih jiwa cengkrama asyik umpama puisi kehilangan larik Jarak bak mandor budak pisahkan anak dari bapak tanpa peduli hati kita teriak namun apa daya ku tak bisa berontak Bila kau tanya pada sang jiwa indera mana yang disuka tentu dengan mantapnya kan dijawab telinga Walau mata raga tak kuasa tuk tatap lekat yang dicinta biarlah suara mesra jiwa satukan rindu kita

In Memoriam Irma "Gendon" Tarigan

Gendon.. Ya begitu kau kerap disapa Sudah cukup engkau diantara kami Terimakasih untuk waktumu Terimakasih untuk candamu Derai tawamu Duka deritamu Iseng candamu Mewarnai bio 2001 Walau kami tak di sisimu Walau mata tak menatapmu Walau tangan tak melepasmu Kami ada untukmu Istirahatlah dalam damai Berbahagialah bersama sang Khalik Gendon.. Hadirmu bagi kami Itulah kenangan berarti Kan kami simpan di hati Rest in peace our beloved sister Irma "Gendon" Tarigan Peace be with you and your family, your best friend, Biologi 2001 Puisi ini tercipta untuk mengenang seorang sahabat yang sudah mendahului kami. Seorang kawan yang pernah menjadi bagian dalam hidup kami. Damailah bersama Penciptamu kawan, biar kenangan sajalah yang membekas di hati kami. Rest In Peace Irma .

Sudah Merdeka?

Merdeka ... ? ya, merdeka sering kau dengar kawan tapi, apa kau pahami belum, sayang... belum! 57 tahun yang lalu, merdeka, sudah dikobarkan bangsa Indonesia merdeka, telah diraih bangsa kita tapi sekarang lihat ... ! lihat kiri kananmu! semu ... semu ... merdeka adalah ungkapan kuno pendahulu kita! hanya tinggal kenangan karena, Indonesia belum merdeka! Kok bisa? cermati kiri kananmu kawan! perkosaan, pembunuhan, korupsi, kekerasan, penindasan segala bidang! apakah itu yang kau sebut merdeka? sehina itukah merdeka? apa bedanya dengan penjajahan? sebiadab itukah merdeka? Tidak ...! aku yakin tidak kawan! merdeka, hal termulia harapan manusia merdeka, dasar hidup manusia merdeka itu nyata, bukan ilusi belaka! Aku mau merdeka! di tanahku, Indonesia kawan, maukah kau mewujudkannya? demi kejayaan dan kemakmuran negeri kita selamanya! sekali merdeka, tetap merdeka! Puisi ini salah satu masterpiece saya dan karya yang saya buat untuk konsumsi publik. Diterbitkan dalam buku berjudul " Pu...